Teman Habis Masa


Mungkin sebagian manusia yang pernah hidup di dunia yang begitu aneh ini pernah merasakan cinta. Iya, memang dari lahir dan kenapa kita bisa lahir dikarenakan manusia yang saling mencintai. Kita dirawat dan dibesarkan oleh orang tua dan keluarga, serta tak lupa Tuhan selalu memberikan kesehatan bagi semua makhluk hidup di dunia ini. Tapi terkadang anak muda justru berpikir cinta hanya ditunjukkan atau dirasakan kepada pasangan, bahkan dia tidak menyadari bahwa Tuhan, orang tua, keluarga, dan saudara adalah kunci cinta di sebuah kehidupan.
Baiklah cerita ini aku tulis karena aku lagi berusaha mempertahankan kunci cinta yang sudah aku sebutin tadi, dan gak lupa dengan sedikit cerita nyata klasik ketika aku berusaha mengejar seseorang dengan berpikir bahwa dia adalah cinta yang akan aku dapat selanjutnya.

...

Nama aku Dewi Sawitri, aku lahir di Jakarta dengan aku lahir di Jakarta tapi aku merupakan seorang gadis dari Bali. Aku sedikit aneh ketika menyebut diri aku sendiri ‘gadis’ haha, yap aku adalah cewek yang tergolong tomboy tapi perasa. Begini ceritanya.
Pertama-tama aku tinggal di lingkungan yang penuh dengan saudara dekat, bahkan saudaraku rata-rata seumuran sama aku. Dari kecil aku mikir dulu ortu kita janjian kapan buat anaknya atau gimana, aku heran di umur segitu aku bisa mikir seperti itu. Oke lanjut, saudara aku namanya Natan dan Intan. Rumah Natan di depan rumah aku, dan rumah Intan di samping rumah aku. Karena kedekatan lingkungan dan status sebagai saudara kita biasa bermain bersama-sama. Mulai dari mandi bareng, makan bareng, main bareng, sampai tidur bareng. Aku dulu bahkan sampai sedih kalau ga bisa ngelakuin salah satu kegiatan itu tanpa mereka, dan setelah aku pikir-pikir aku sangat genit karena Natan adalah seorang laki-laki hahaha. Hal tersebut kita masih lakuin sampai kita berumur 4 tahun.
Ketika umur 4 tahun, aku dan Intan sudah sibuk untuk mau lanjut sekolah dimana. Berbeda dengan Natan yang baru akan sekolah di TK B. Oke jadi dulu ada TK A dan TK B, dulu kalo ortu pingin banget anaknya cepet bisa sekolah bakal masukin anaknya ke TK A kemudian berlanjut ke TK B. Tapi karena Natan sudah biasa diajarkan materi dasar, jadi dia bias skip TK A dan mulai pendidikannya di TK B. Oke aku ga masalah dengan hal itu, gak sampe nangis seperti yang udah aku certain tadi. Balik lagi, aku masih inget waktu itu aku, kakakku, ibuku, Intan dan ibunya sedang ngumpul di rumah aku. Aku ngingetnya sebagai rapat besar untuk pendidikan seorang anak. Sampai munculah pertanyaan
“Dewi mau TK di deket rumah bisa cepet pulang atau di TK Handayani bareng Kak Ayu dan lebih bagus?” Tanya ibuku. Btw Kak Ayu itu kakak aku.
“Iya dimana aja yang penting bareng Intan” jawab aku
“Yaudah kita di TK Handayani aja, katanya disana banyak anak ayam lho hahaha” disini aku udah mikir kalau Intan sedang berbohong
Oke aku setuju-setuju aja waktu itu mau disekolahin dimana yang penting aku bareng temen pikirku.
…
Awal masuk TK A berjalan lancar, karena kesibukan ortuku jadi aku lebih sering berangkat dan dijemput bareng bapaknya Intan. Aku masih inget gimana kita berdua boncengan naik motor dengan bapaknya Intan. Syukur-syukur dulu badan kita masih kecil, gak kebayang kalau sekarang kita boncengan bertiga kayaknya kita bakal dipermalukan masyarakat. Waktu pembagian kelas akhirnya aku dapet tuh sekelas sama Intan, aku merasa tenang-tenang aja hidup aku. Aku dulu paling suka banget mewarnai yang aneh-aneh, contohnya gambar gunung aku warnain hijau seolah-olah itu bukit. Warna langit yang rata-rata orang warnainnya biru, aku warnain orange kekuningan supaya terlihat sebagai sunset. Karena hal tersebut dulu aku sering dipuji guru, nginget itu sekarang aku merasa diberlebihkan oleh guru aku karena dia bilang di depan kelas
“Wah warnanya dewi bagus, berbeda dengan warna biasanya”
Karena mendengar hal tersebut, teman-teman memuji aku. Tapi berbeda dengan Intan yang merasa iri denganku. Jadi aku berusaha untuk tetap menjaga hubungan dengannya. Tetapi pertemanan kita masih berjalan lancar sampai SD. Aku SD barengan lagi sama Intan dan juga Natan. Tapi aku dan Intan berpisah kelas dengan Natan. Jadi karena dia sadar dia laki-laki dan punya temen baru kita jadi jarang bermain bareng di sekolah, tapi itu gak ngerubah status pertemanan kita. Masih dengan cerita aku dengan Intan, aku dulu tertutup banget orangnya temenan, ya bias dibilang cuma sama dia aja. Lingkar pertemanan yang sempit. Bukan karena aku tidak ingin bersosialisasi dengan lainnya tetapi karena keinginan Intan yang hanya ingin main bersamaku, sampai aku berpikir kita saling ketergantungan. Aku masih inget banget dulu aku duduk di belakang dan dia duduk di depan, kita selalu main surat-suratan yang isinya
“Hai Intan, aku Dewi. Lagi ngapain di depan?” Tanya aku ke Intan melalui surat
“Lagi liatin bu guru main hp hahaha”
“Hahaha awas ditauin kamu merhatiin dia dari tadi!” kata aku dan melempar suratnya ke depan
Oke kalian pasti mikir aku gimana cara ngasih suratnya, bukan dioper tapi aku lempar tuh kertas sambil buat suara ‘pstt’. Awalnya berlangsung lancar, sampai surat terakhir aku sampai di kaki guru aku ketika dia tiba-tiba berdiri. Sial mampus aku. Waktu itu aku langsung kena ceramah guru aku. Hahaha itu untuk cerita serunya.
Intan dulu punya penyakit epilepsi yang berarti aku harus jagain dia terus. Tapi dengan dia begitu dia terkadang jadi sangat egois, tidak jarang kita musuhan dan setiap itu juga dia ngancem aku.
“Kalok kamu musuhin aku, kembaliin es krim yang pernah bapak aku beliin buat kamu!”
“Loh itu kan bapakmu yang maksa aku ambil, bukan aku yang minta”
“Gamau tau”
Oke aku ngalah dan aku kasik dia es krim seperti waktu itu
“Aku maunya uang bukan es krimnya”
Oke aku cemen banget dulu, aku ga berani ngelapor ke ortu aku kalok aku ada masalah sama Intan apalagi sampai uang bekal aku ga jarang aku kasi Intan. Aku inget banget dulu es krim Spongebob yang dibeliin itu harganya gak semahal yang disebutin oleh dia, tapi lagi-lagi aku ga bisa ngelak. Mengingat aku sangat terikat sama dia. Dengan kejadian itu aku takut, tapi aku tetep mau berteman dengan dia.
Sampai suatu ketika kenaikan kelas 3, kita berpisah. Bukan karena pindah sekolah, tapi Intan harus tinggal kelas karena dia sering absen dikarenakan penyakit epilepsinya. Disitu aku sedih berlarut, sekasarnya Intan dulu ke aku dia tetep temen aku, dan dia satu-satunya temen aku saat itu. Aku gak punya temen waktu kelas 3 dan disitu aku jadi manusia yang gatau harus ngapain dan sama siapa. God is good, mungkin Tuhan tau selama ini aku masih jadi orang terendah dan bahkan belum bias keluar dari zona nyaman. Kelas baru aku mulai beradaptasi dengan lingkungan baru dan sampai suatu ketika aku dipanggil oleh Lia dan Yunita waktu aku mojok ketika istirahat.
“Wi kok diem aja, sini gabung!” panggil Lia
“Iya ayuk sini gabung” sambung Yunita
Semenjak itu aku main bareng mereka, kebetulan keluarga mereka juga deket sama keluarga aku, jadi aku merasa punya keluarga baru. Disitu aku ngerasa jadi orang paling bahagia waktu SD, gimana lagi Lia itu orangnya ramah banget semua cewek di kelas temenan sama dia yang secara otomatis jadi temen aku. Ngeliat itu semua, Intan jadi iri sama aku karena dia pikir seolah-oleh aku lupain dia dan malah asik dengan teman baru. Waktu itu aku sedang main lompat tali sama temen aku, Intan nyamperin aku.
“Kok kamu lupa temen sih baru aku gak naik kelas kamu bisa tinggalin aku? Inget utangmu masih banyak sama aku?”
“Utang apa lagi?”
Disitu aku merasa dia jahat banget sama aku, semua hal yang dulu dia bilang gak apa sama aku dan dia sebut ikhlas ditagih kembali. Contohnya penggaris yang patah karena mukul teman cowo, dia suruh aku ganti pakai uang. Yang harganya bisa 5 kali lipat dari harga aslinya. Aku minta tuker pakai penggaris asli dia ga mau. Karena sifatnya yang keras kepala dan ortunya yang nitipin dia ke aku, aku gak bisa apa. Aku minta list barang-barang yang dia sebut utang ke aku, yang totalnya ratusan rupiah. Dari situ aku diem-diem mecahin tabungan aku yang sudah lama aku kumpulin, aku ga jajan di sekolah, dan aku minjem uang kakak aku. Itu semua aku lakuin supaya aku terbebas dari dia. Seminggu setelahnya aku bisa ngumpulin uang tersebut dan aku bayar ke dia. Aku berharap aku sudah bebas total dari dia.
“Kamu masih ada utang ke aku!”
“Semua utang sudah aku bayar, dan aku ga pernah main sama kamu.”
“Kakekmu pernah ngutang sama kakek aku?”
“Yang penting itu bukan aku yang ngutang”
“Kalok gitu aku bilang ke kakek aku”
Oke disitu aku cemen aku ikutin semua perintahnya dan aku pasrah saat itu. Aku lakuin semua hal yang bisa aku lakuin untuk lunasin hal yang dia sebut ‘hutang’ dan akhirnya lunas. Tapi disitu aku sedih banget, aku ngerasa dia bener-bener bukan orang yang aku kenal dulu. Atau dia memang sifatnya begitu tapi aku baru sadar? Aku juga gatau. Karena kesedihan aku dan ditauin temen baru aku, temen aku diem-diem marahin Intan. Aku inget itu semacam ngelabrak orang tanpa jambak-jambakan. Karena kebaikan temen baru aku, aku jadi bebas dari Intan. Aku semakin dekat sama temen baru aku dan aku gak pernah berkomunikasi lagi sama Intan. Kalau ortu kita sering ngumpul, aku berusaha menghindar dan aku lebih asik dengan teman baru aku. Dan saat itu juga aku dan Intan adalah teman habis masa.
Disitu aku mikir ‘Teman yang baik tidak perlu dicari, dia akan datang ketika kita benar-benar membutuhkan seseorang’. Lalu bagaimana dengan Intan yang sekarang? Dia sudah jauh berubah, lebih dewasa setidaknya. Semenjak lulus SD sampai sekarang kita masih berhubungan baik. Tujuan dari aku cerita part ini menunjukkan bahwa seseorang pernah di titik terendah, dan aku merasakannya di masa aku seharusnya berkembang, bersosialisasi, bermain tetapi justru menjadi orang yang merasa sudah muak dengan kekasaran orang lain sehingga memilih untuk menyerah. Semua orang pernah melakukan kesalahan, termasuk Intan yang pernah melakukan kesalahan besar saat di usia yang seharusnya dihabiskan untuk bermain bersama teman-teman. Itu tidak luput dari faktor lingkungan kami yang sudah salah dan kesibukan orang tua menyebabkan aku memilih diam adalah jalan satu-satunya. Aku bersyukur pernah merasakan hal tersebut sebelumnya.
Seseorang pernah berkata bahwa kita harus belajar untuk tidak mengganggap semua adalah masalah dan kita tidak sepenuhnya bisa membuat semua orang puas dengan sifat kita, sehingga untuk kedepannya aku bisa belajar untuk memilih teman and learn to say no.
“cutting people out of my life doesn’t mean I hate them, it simply means I respect me”


Komentar